Di LUAR EKSPEKTASI (Seri Travelling)

Banyak orang yang berekspektasi tinggi saat akan pergi berlibur ke suatu destinasi untuk pertama kalinya. Entah itu didorong oleh rasa penasaran, tertarik dengan cerita teman atau karena melihat foto-foto yang dipamerkan di sosial media. Tetapi sering kali realita yang dialami tak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Sayapun pernah mengalami hal serupa.  

Semalam di Domas
Impian saya untuk merasakan sensasi berkemah di pantai ahirnya akan segera terwujud. Setidaknya begitu pikir saya saat ajakan berkemah di pantai datang dari teman kerja saya. Memancing, membakar ikan hasil buruan, lalu menghabiskan malam dengan cekikikan di atas pantai berpasir. Pasalnya dari kecil saya belum pernah sekalipun berkemah di pantai. Pernah sih beberapa kali bermain di pantai, tetapi tidak pernah sampai bermalam apa lagi mendirikan tenda. Itulah sebabnya saya langsung mengamini ajakan teman saya dengan semangat empat lima!
Berbekal harapan manis tersebut, saya pergi dengan hati girang. Naik motor. Terkena panas matahari, terpapar debu dan terjebak macet dibeberapa ruas jalan, sebelum akhirnya memasuki jalanan sepi menuju pantai Domas. Tak kurang dari 3 jam, saya dan 2 orang teman saya melakukan perjalanan untuk sampai di pantai Domas. Kala itu hari sudah mulai gelap.
Tiba di gerbang kawasan pantai, kami ternyata masih harus melewati gang-gang sempit di tengah perkampungan penduduk sekitar 1 jam. Dan ahirnya kami sampai di Domas yang dibilang pantai itu. Ternyata Domas bukanlah pantai yang saya bayangkan sebelumnya. Melainkan tambak ikan super besar penghasil ikan-ikan air payau semacam bandeng, kepiting, lobster, dll.
Karena tidak memungkinkan menggunakan motor untuk menjangkau saung (semacam rumah panggung kecil), maka perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki. Melewati tanah liat becek dan licin karena sebelumnya turun hujan. Lalu disambung dengan mengendap-ngendap di atas jembatan yang terbuat dari sebuah bilah kayu kecil dan rentan patah. Jika tidak fokus salah-salah bisa nyemplung kedalam kolam ikan. Semua itu kami lakukan dalam kondisi gelap gulita tanpa pencahayaan apapun. Ya iyalah namanya juga di tambak ikan, malam-malam pula.
 Sepanjang perjalanan saya terus meracau setengah mengomel pada teman-teman saya menanyakan dimana pantainya. Kok tidak ada tanda-tanda pantai. Teman saya hanya menjawab sebentar lagi kita sampai di pantai. Saya percaya saja dan tetap fokus berjalan hati-hati.
Ahirnya kami tiba di saung tempat kami akan beristirahat. Untuk kesekian kalinya saya bertanya, “dimana pantainya?”. “Ya ini pantainya, tinggal jalan beberapa langkah lagi ke depan”. Jawab teman saya dengan santainya. Saya memang mendengar deburan ombak, tetapi sampai pagi berlalu saya tidak sempat melihat seperti apa pantai Domas yang saya idam-idamkan itu.
Diimaginasi saya, begitu sampai di bibir pantai kami akan mendirikan tenda yang kami bawa, menyalakan api unggun dan memancing dengan peralatan mancing yang juga sudah dipersiapkan sebelumnya. Menyantap ikan bakar hasil tangkapan. Lalu menghabiskan malam dengan syahdu.
Ah tetapi apa dikata, tenda dan alat pancing yang sudah susah payah saya bawa mubazir, tidak terpakai sama sekali. Rencana mancing memancing digantikan dengan menyedok kolam ikan oleh si juragan pemilik kolam, jadi saya dan teman saya hanya tinggal memasak saja. Beberapa buah ikan bandeng segar dibakar hanya dengan bumbu garam, dan beberapa kepiting berukuran sedang direbus, juga hanya dengan garam. Kata teman saya sih rasanya manis, kata saya itu amis!
Imaginasi saya tentang malam syahdu pun hanya tinggal harapan. Semalaman saya tidak bisa tidur karena terganggu oleh obrolan teman saya dan seorang lelaki kenalannya yang ia sebut “kakak”. Si kakak ini bukan kakak kandung, melainkan kakak sepupu dari pacarnya teman saya. Dengar punya dengar yang mereka bahas semalaman suntuk adalah curhat percintaan, dimana teman saya hampir ditinggal kawin oleh pacarnya itu.
Sementara saya hanya berjibaku dengan nyamuk tambak ikan yang sebesar-besar gaban dan badan dengan gejala masuk angin komplit. Sakit kepala, mual-mual, dan perut kembung. Beberapa kali saya buang air di atas jembatan kecil yang menjadi penyambung antara satu kolam dengan kolam lainnya. Beruntung ada pria yang lumayan tampan, teman si ‘kakak’, mau repot-repot membawakan terpal dan air mineral untuk keperluan yang satu itu. Sepintas terpikir, kalau dia tadinya naksir saya, jadi illfeel gak  yah setelah ini? :D :D  :D
Belakangan saya tahu, kalau acara tempo hari hanya akal-akalan si kakak agar bisa berdua-duan dengan teman saya. Oh pantas saja acaranya jadi lain!

Ramainya Kota Tua Jakarta
Beberapa tahun lalu saya sempat melihat liputan tentang Kota Tua Jakarta di salah satu stasiun televisi swasta. Katanya Kota Tua sedang melakukan pembenahan untuk menarik hati pengunjung setelah sekian lama terbengkalai. Saya heran, kok tempat seklasik itu diabaikan dan tidak ada peminatnya. Oke baiklah! suatu saat saya akan mengunjungi tempat kuno nan artistik itu.
Selang beberapa tahun, ternyata kota tua sudah tidak sesepi dan seekskusif yang saya bayangkan sebelumnya. dimana-mana orang-orang berjibun. Memadati setiap ruang. Selfie sana selfie sini. Hanya satu dua orang saja yang benar-benar menikmati cita rasa dan menyerap pengetahuan yang bisa didapat di Museum.
Puas berkeliling di dalam museum Fatahillah dan menengok penjara wanita, saya dan seorang teman saya memutuskan untuk keluar gedung. Berharap kerumunan manusia yang padat itu akan mulai berkurang saat hari semakin panas. Tapi kami salah, semakin siang pengunjung malah semakin bertambah. Ada yang hanya sekedar berfoto ria, bermain sepeda onthel, atau malah ada juga lho yang berolah raga. Belum lagi para pedagang kaki lima yang memedati jalanan trotoar pepanjang Kota Tua. Saking padatnya Kota Tua, ada beberapa turis Eropa yang pingsan kehabisan oxigen. Waduh!
Kami beranjak menuju Museum Keramik setelah bosan dengan penampakkan Museum Fatahillah yang penuh sesak. Letaknya tidak jauh dari situ, tinggal berjalan beberapa menit saja. Di sana suasana sepi dan ber-AC. Selain itu saya bisa menikmati berbagai pajangan kramik dari zaman dulu sampai yang mulai kekinian. Selain jenis-jenis keramik, di sana juga dipajang beberapa lukisan karya pelukis-pelukis legendaris.
Meskipun saya tidak bisa menikmati suasana Kota Tua secara ekslusif, tetapi saya tetap senang hari itu. Karena untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya bisa merasakan naik Kereta Api ekonomi dan Kereta Api Listrik. Kasihan yah umur dua puluhan baru pertama kali naik kereta? :D

Malam Minggu Di Kampung Domba
“Mau yah ikut aku ke Kampung Domba. Di sana suasananya romantis banget. Bisa ngeliat penampakkan lampu kota Serang-Pandeglang dari atas bukit. Mirip-mirip kaya Punclut Bandung!” kata salah seorang teman pria saya di suatu malam minggu dengan ekspresi berapi-api. Meskipun tidak terlalu yakin, bagi single fighter seperti saya, ajakan semacam itu tetaplah angin surga. Sayapun mengamini.
Berangkat selepas magrib dari sekitaran kota Serang menuju Kota Pandeglang. Hanya memakan waktu satu jam untuk sampai di sana. Melewati jalan raya Serang – Pandeglang, lalu masuk gapura Desa Juhut tempat kampung Domba berada.
Taraaaa…
Ternyata bukit yang dimaksud teman saya itu hanya semacam dataran tinggi beberapa ratus meter di tengah pemukiman penduduk, luasnya pun tidak seberapa. Memang benar saya bisa melihat kerlap kerlip lampu kota, tetapi untuk anak daerah yang lahir dan dibesarkan di dataran tinggi seperti saya, suasana semacam ini sudah terlampau biasa. Bahkan saya bisa melihat lanskap kota yang lebih semarak di kota kelahiran saya pada malam hari. Malah ditambah suhu dingin ala pegunungan yang tidak bisa di dapat di Kampung Domba.
Oh ya, sedikit info nih, kenapa dijuluki dengan sebutan Kampung Domba? karena pada awalnya kampung tersebut merupakan kampung binaan pemerintah untuk memberdayakan masyarakat setempat. Lalu kampung ini berkembang jadi tempat wisata keluarga, terutama yang memiliki anak kecil sebagai wahana edukasi. Makin kesini, Kampung Domba juga diminati para remaja sebagai tempat nongkrong dan berselfie ria.
Meskipun belum seindah puncak-puncak di Jawa Barat, tapi saya pribadi salut dengan ide wisata yang ditawarkan. Yang awalnya hanya peternakan domba binaan pemerintah, kini diminati juga sebagai tempat berkumpul keluarga dan muda-mudi. Semoga Kampung Domba juga bisa terus berbenah dengan popularitasnya yang kian memuncak. Suatu saat harus ada kafe bersih yang menyediakan beraneka macam jajanan, tidak hanya mie isntan rebus dan otak-otak goreng saja.

Instagrameble-nya  Batu Gede
Siapa yang tidak tahu dengan aplikasi smartphone bernama Istagram? Hampir setiap orang yang menggunakan smartphone pasti juga memasang instagram. Yaitu, aplikasi khusus untuk menyimpan dan membagi foto-foto pribadi kita dengan orang lain. Berkat kepopuleran instagram inilah muncul istilah istagramable pada objek atau tempat yang dianggap menarik dan indah untuk di posting di sana. Tetapi sayangnya tidak semua yang terlihat menarik di Istagram juga menarik saat disaksikan langsung. Sehingga banyak orang yang mungkin merasa (sedikit) tertipu dengan penampakkan aslinya. Saya misalnya.
Saking sering melihat foto-foto berlokasi di Batu Gede, sayapun kepincut juga untuk kesana. Mengingat lokasinya berada di kecamatan Sayar, Cilegon, tidak terlalu sulit untuk dijangkau. Cukup menempuh satu jam perjalanan saja dari pusat kota Serang. Dari foto-foto yang saya lihat, saya membayangkan akan bisa bersantai-santai ria di atas pohon berpapan kayu sambil menikmati pemandangan kota Cilegon. Serta sekali dua kali dibelai angin sepoi-sepoi. Aih sedapppp…
Tiba di lokasi saya hanya terpaku kebingungan, disusul dengan gelak tawa ledekan dari teman saya. Ekspresi wajahnya menyiratkan, ini lhoo tempat yang kamu penasarin selama ini. Tempat yang saya kita akan sepi dan cocok untuk merenung itu, nyatanya dibanjiri banyak sekali remaja seumuran saya. Kebanyakan sih, ya itu tadi, untuk berburu tempat yang instagramable. Mereka semua antri untuk berfoto selama 15 menit dengan maksimal 6 orang dalam satu kelompok. Per satu orang dikenakan tarif 6 ribu rupiah. Kenapa antri? Karena pohon berpapan hanya ada satu. Benar-benar hanya itu. -Saya hanya tertawa geli di dalam hati.
Terkadang saya merasa editan dan pemberitaan di sosial media tentang suatu tempat itu terlalu berlebihan. Bukan berarti Batu Gede tidak indah. Bukan. Karena dari Batu Gede saya bisa melihat kemegahan kota industri yang masih hijau dan kaya akan potensi laut seperti Cilegon. Saya hanya menyayangkan cara promosi yang terlalu berlebihan dengan dramatisasi gambar yang cukup jauh dari realitas. Memajukan suatu tempat pariwisata tidak hanya dengan promosi besar-besaran, tapi juga pembenahan dari segi pelayanan dan fasilitas. Setuju?

                Beberapa pengalaman di atas mengingatkan saya pada perkataan Henry Miller, one s destination is never a place, but a new way of seeing things. Termasuk untuk pengalaman-pengalaman kurang menyenangkan dan di luar ekspektasi. Sebab Ekspestasi itu mindset. Dimana bayangan kita akan sesuatu lebih banyak dipengaruhi oleh asumsi pribadi. Jadi, memang tidak salah memiliki harapan terhadap destinasi yang akan kita tuju, tetapi menikmati setiap proses perjalanan adalah hal yang jauh lebih penting.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JOGJA KALI KEDUA

SEHARIAN BERKELILING BANTEN LAMA