JOGJA KALI KEDUA
Kalau Raisa bilang kali kedua pada yang sama, sama indahnya,
kok saya ngerasa nggk gitu ya dengan
kedatangan saya yang kedua ke Jogja. Jogja nampaknya sudah banyak berubah sejak
empat tahun lalu, saat saya pertama kali menjejakkan kaki di Jogja. Saat itu saya
benar-benar kagum dengan penampakkan fisik Jogjakarta. Kultur Jawa yang kental. Jalanan
luas yang rapi. Kendaraan tradisional yang berseliweran dengan tertib. Dan
tentu aja lampu kota yang berkelap-kelip romantis saat malam menyapa. Semua itu
masih sangat melekat diingatan dan menjadi motivasi saya untuk datang lagi ke
Jogja.
Dan akhirnya, tahun ini saya
memiliki kesempatan lagi untuk datang ke Jogja.
Tak hanya Malioboro saja yang
saya kunjungi, saya juga menjelajah beberapa tempat di sekitaran kota. Saya mengamati
setiap sudut yang saya lewati. Nampaknya, sekarang sudah banyak gedung tinggi
di Jogja. Kebanyakan adalah hotel berbintang yang populer juga di ibu kota.
Menjamurnya hotel mewah tersebut, pastilah bertujuan untuk menyediakan
fasilitas yang lebih baik bagi para wisatawan. Tetapi, semoga saja pembangunan
infrastruktur modern tidak akan menggeser keberadaan bangunan klasik dan
bersejarah di Jogja.
Selama mengelilingi Jogja, saya
lebih banyak menggunakan kendaaran online
dibandingkan dengan kendaraan konvensional. Bagi backpacker berbudget
pas-pasan macam saya, transportasi online
adalah pilihan yang pas. Sifatnya yang praktis dan ekonomis jadi alasannya. Menaiki
kendaraan tradisonal seperti becak atau andong, sebenarnya sangat menyenangkan.
Karena selama di perjalanan kita bisa menikmati suasana Jogjakarta dengan lebih
santai. Tetapi sepertinya, kendaraan tradisional sekarang tidak bisa menjadi
alat transportasi utama, mengingat tarifnya yang relatif mahal. Tarif sekali jalan saja bisa sampai dua puluh
lima ribu rupiah padahal jarak yang ditempuh tak lebih dari 2 kilo meter. Dulu sih masih sepuluh ribu sudah diajak
berkeliling kota sepuasnya. Mau ditawarpun kok
ya kasian, sebab bukan mesin yang mereka gunakan, tapi TENAGA. Jadinya, saya
hanya menaiki becak dan andong saat-saat tertentu saja.
Kabar gembiranya, tidak ada
gesekan antara pengendara online dan
tradisional. Mereka terlihat saling support
dan berampingan, tak seperti yang terjadi di kota-kota besar belakangan ini. Kita
harus belajar pada Jogja!
Eh tapi, pengendara becak dan
andong sekarang sudah jarang yang pakai baju tradisional ya? :(
***
Mungkin penilaian saya tentang
keadaan Jogja sekarang terdengar subjektif. Tetapi, percayalah, saya hanya ingin Jogja tetap klasik
dan romantis… Dan saya masih punya cerita tentang sisa-sisa keromantisan dan
segudang keseruan tentang Jogjakarta di tulisan berikutnya… :D
Nice article 👌 setuju banget kalo Jogja tuh harus tetep Klasik dan Romantis. Biar tetep berasa Jogja nya, jangan jadi Jogja rasa Jakarta plisss 😢
BalasHapusYep! Sebenarnya wistawan / turis juga punya andil dlm menjaga kelestarian tempat dan budaya. Contoh kecilnya biasain untuk gak buang sampah sembarangan. It's simple! Thanks ya udah komen.. Hihi
BalasHapusSaya Belum pernah keliling Jogja, dulu saat ke Jogja waktunya penuh dengan kegiatan dan tidak sempat jalan2. Jadi perjalanan pertama saya ke Jogja ga memberikan kesan apapun. Padahal banyak kesan positif yg saya dengar dari teman2 asal Jogja atau yg pernah berkunjung ke Jogja. Nah, di tulisan ini ternyata saya bisa nemu sudut pandang lain, bahwa ada sisi khas Jogja yg mulai hilang. Bikin saya makin semangat utk bisa main lagi ke Jogja dan membuktikan kesan seperti apa yg Jogja akan beri untuk saya sendiri, di kali kedua saya ke Jogja.
BalasHapus