SEHARIAN BERKELILING BANTEN LAMA

Ternyata untuk berlibur yang asik tidak harus selalu pergi ke tempat jauh. Berkeliling seharian di dalam kota pun bisa juga lho menjadi alternatif liburan yang menyenangkan. Lebih mudah untuk diakses dan pasti lebih ekonomis dibandingkan liburan ke luar kota, apa lagi saat keadaan dompet sedang sepi. Sayapun sering berlibur hanya dengan mengelilingi tempat wisata di dalam kota. Yah, itung-itung mencintai daerah sendiri, karena banyak juga lho masyarakat setempat yang bahkan tidak mengenal daerahnya. Berhubung sekarang saya merantau di provinsi Banten, daerah yang saya maksud ya di sekitaran Banten, khususnya kota Serang.
Waktu itu kebetulan teman-teman komunitas adventure saya sedang ada acara nge-trip. Ada yang pergi mendaki, ada juga berkemah di pinggiran pantai. Saya sendiri memutuskan untuk tidak ikut mereka. Saya sedang tidak mood bercapek-capek ria dengan pergi ke tempat jauh. Tetapi boring juga kalau hanya menghabiskan liburan dengan doing nothing in the kost.
Akhirnya hari itu saya memutuskan untuk pergi ke Banten Lama yang katanya vintage. Mendanger kata (tempat) lama, antik, atau kuno selalu saja membuat mata saya berbinar-binar antusias ingin mengunjunginya. Tetapi baru kali itu saya bisa pergi ke sana dikarenakan tidak ada teman yang bisa mengantar. Maklumlah tipikal traveller amatiran yang harus diantar dulu baru tahu jalan. :D
Ada banyak sekali tempat wisata bersejarah yang bisa didatangi di Banten Lama, seperti Istana Keraton Kaibon. Istana Keraton Surosowan, Benteng Spellwijk, vihara Avalokitesvara dan lain-lain. Waktu itu saya hanya sempat mengunjungi Vihara Avalokitesvara dan Istana Keraton Kaibon, karena waktu semakin sore dan saya harus mengejar sunset di Karangantu.

Vihara Avalokitesvara
Uh! Nama vihara ini cukup sulit untuk saya lafalkan, Avalokitesvara! Tetapi karena nama unik inilah yang membuat saya penasaran untuk melihat seperti apa tempatnya. Bangunannya memang terlihat agak kuno. Dihiasi dengan beberapa tiang besar yang menyangga bangunan sehingga terlihat kokoh. Di sisi kiri kanan terdapat patung singa emas yang menjadi mascot di sana. Tetapi saya tidak sampai masuk ke dalam gedung karena takut ada yang sedang beribadah dan malah mengganggu.
Vihara ini berada ditengah pemukiman penduduk yang heterogen. Ada kaum pribumi dengan mayoritas muslim dan ketununan Tionghoa yang sebagian besar menganut agama Buddha. Tetapi sekilas saya perhatikan masyarakat di sana  terlihat akur dan saling menghargai. Mungkin itulah kenapa salah satu vihara tertua di Indonesia ini disebut-sebut sebagai simbol toleransi.
Sayang, diluar gedung  vihara ini  banyak sampah berserakan, terutama di dalam kali di sebelahnya. Situasi ini seolah menandakan bahwa vihara ini tidak dijaga dengan baik sebagai salah satu warisan sejarah.

Istana Keraton Kaibon
Kesan pertama melihat kondisi Istana Keraton Kaibon adalah heran. saya kira sebelumnya Istana Keraton Kaibon berada di tempat yang ekslusif dan berada jauh dari pemukiman penduduk, karena memang begitu biasanya. Tetapi situs bersejarah yang satu ini berbeda, letaknya persis berdesakkan dengan pemukiman pendududuk. Belum lagi ada beberapa pedagang yang menggantungkan tendanya di tiang Istana.
Suasana di dalam Istanapun tidak jauh berbeda. Banyak anak-anak dan remaja bermain bola. Membuat saya sedikit hawatir terkena tendangan. Sesekali juga saya melihat hewan ternak seperti kambing milik penduduk berlalu lalang. Dan sama halnya seperti di Vihara Avalokitesvara, di sini juga banyak sampah tercecer dimana-mana. Mungkin bawaan dari para pengunjung yang tidak disiplin dan bertanggung jawab.
Saya memperhatikan cukup lama dan kemudian membatin. Alangkah tidak perdulinya masyarakat dan pemerintah setempat dengan warisan budayanya. Padahal jika kita telusuri Istana Keraton Kaibon ini sarat akan nilai histori.
Istana Keraton Kaibon dibangun sebagai kediaman raja Kesultanan Banten, Sultan Syafiudin dan ibundanya Ratu Asyiah. Kemudian Istana Keraton Kaibon ini dijadikan pusat pemerintahan bupati Banten pertama bernama  Aria Adi Santika. Pada tahun 1832 Istana Keraton Kaibon dibongkar dan hanya menyisakan pondasi, beberapa bagian tembok, dan gapura.
Meskipun hanya tinggal puing-puing, kita seharusnya tetap menjaga kelestariannya. Mejaganya dari sampah, tidak mengalihkan fungsinya selain hanya untuk cagar budaya, dan disediakan guide sebagai penyedia informasi. Yakin deh dengan begitu Istana Keraton Kaibon akan tetap terlihat semakin menarik dan tentunya asik untuk dijadikan tempat berfoto yang eksotik.

Pantai Gopek
Setelah cukup puas (meskipun belum semua tereksplor) berkeliling di kecamatan Kasemen, Banten Lama, saya langsung melipir ke Karangantu. Tidak sulit untuk menjangkau pelabuhan Karangantu dari kecamatan Kasemen, hanya tinggal lurus terus sekitar 700 meter.
 Anak muda di serang lebih suka menyebutnya dengan Pantai Gopek karena retribusi yang dikenakan hanya 500 rupiah. Lucu dan senang sekaligus sih. Kita bisa menikmati keindahan alam sekitar dengan biaya sangat-sangat terjangkau. Tapi kalau ingin berkeliling dengan perahu kita harus membayar ongkos sekitar 15.000 per orang.

Kebetulan saat itu saya tidak sedang ingin naik perahu. Mood saya adalah menunggu sunset datang. Sekitar 30 menit menunggu akhirnya sunset yang ditunggu turun juga. Awalnya sempat hawatir juga sih karena sedari tadi awan turun naik menutupi matahari. Tapi sepertinya awan-awan itu mengerti kegelisahan saya, mereka menghilang membiarkan matahari terlihat bulat besar dan jelas. Warnanya merah menyala dihiasi warna mega yang jingga bercampur magenta. Oh…indanhya ciptaan-Mu…lirih saya sambil menyantap gorengan, bakso ikan bakar dan soft drink yang saya beli dari pedagang kaki lima di sekitar situ…

Komentar

  1. Iya mau saya tampilin tp masih ada beberapa kendala.. Masih amatiran bos.. Tunggu revisi nya aja ya.. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

JOGJA KALI KEDUA

Di LUAR EKSPEKTASI (Seri Travelling)